Came and Gone

Ga semudah itu buat menghapus hal-hal krusial yang pernah datang dikehidupan gue. Cinta tak terprediksi, hati yang merindu tiba-tiba patah dan sosok pangeran berkuda putih yang pernah menggoreskan tinta warna-warni di jiwa gue yang sebelumnya cuma berwarna kelabu. Benar kata kebanyakan orang apa yang datang pasti akan pergi, makanya gue ga pernah ngegantungin harapan setinggi-tingginya pada makhluk yang bernama manusia. Hanya, sebatu-batunya gue juga manusia. Sedih, bahagia, sakit gue rasain even gue yang ngusir dia secara mendadak. Gue pikir ga masalah karena itu semua demi kebaikan dia juga. Gue juga pikir ga masalah juga karena toh gue juga bisa tanpa dia. Tapi ternyata hari-hari baru gue malah kembali gelap dan tiap waktu lengang semua kenangan gue sama dia malah membanjir. Gue ga bisa kontrol sama sekali. Kalau kata temen gue “kamu pasti pura-pura bahagia” dan gue jawab not offense at all. Tapi ternyata dua hari setelah menghilang susah banget ngehapus yang namanya kenangan dan gue belum bisa nebak kedepannya gue bakalan gimana. Cuma berusaha instropeksi diri aja sih sebenernya, karena selama ini gue in relation dg dia gue ngerasa senjang banget dimana dia mencurahkan semua cinta dan kasih sayangnya ke gue tapi gue belum bisa terbuka dan memberikan semua yang dia mau, i mean in the positive things dan beberapa hari ga ada gue udah kehilangan ekspresi lagi. Ga ada namanya sebel, marah, kangen, bahagia. I’ve already being an upnormal person anymore.

Advertisements